A.
Cerita ( الحكاية )
الطِّفْلُ
وَالنَّحْلَةُ
الطِّفْلُ :
أَيَّتُهَا النَّحْلَةُ الْجَمِيْلَةُ. أَرَاكِ تَطِيْرُ مِنْ زَهْرَةٍ
إِلَى أُخْرَى طُوْلَ النَّهَارِ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَفَكَّرِي فِى شَيْءٍ غَيْرِ اللَّعْبِ.
يَا لَيْتَنِى مِثْلُكِ بِدُوْنِ شُغْلٍ. فَأَلْعَبُ طُوْلَ النَّهَارِ كَمَا
تَلْعَبِيْنَ
النَّحْلَةُ :
غَلَطْتَ أَيُّهَا الطِّفْلُ. لِأَنِّى أَطِيْرُ مِنْ زَهْرَةٍ إِلَى
زَهْرَةٍ لِأَعْمَلَ عَمَلاً. وَلَسْتُ بِدُوْنِ شُغْلٍ كَمَا تَقُوْلُ
الطِّفْلُ : مَا شُغْلُكِ وَإِذَا كُنْتِ
تَشْتَغْلِيْنَ طُوْلَ النَّهَارِ فَكَيْفَ لاَتَفَكَّرِيْنَ فِى الرَّاحَةِ
النَّحْلَةِ :
إِنِّى أَجْمَعُ عَسَلاً لِأَتَغَذَّى مِنْهُ أَيَّامَ الشِّتَاءِ
وَشَمْعاً لِأبْنِي بِهِ بَيْتِيْ. قَبْلَ أَنْ تَمْضِيَ أَيَّامُ الصَّيْفِ
وَتَقِلُّ حَرَارَةُ الشَّمْسِ فَتَمُوْتُ الْأَزْهَارُ. وَإِذَا اسْتَرَحْتُ
الآنَ ضَاعَتْ مِنِّى فُرْصَةٌ جَمْعُ الْقُوْتِ. فَأَمُوْتُ فِى الشِّتَاءِجَوْعًا.
فَاتَّخِذْنِى مِثَالاً لَكَ. وَاجْمَعْ فِى صِغَرِكَ مَا يَنْفَعُكَ فِى
كِبَرِكَ.
B.
Terjemahan Cerita
Seorang Anak Kecil dan Seekor Lebah
Anak :
Wahai lebah yang cantik. Aku melihatmu berterbangan dari satu bunga ke
bunga yang lain sepanjang hari, tanpa memikirkan sesuatu
selain bermain. Andai saja aku bisa sepertimu, tanpa ada kesibukan, maka aku
akan bermain sepanjang hari sebagaimana halnya kamu bermain.
Lebah : Kamu salah anak kecil. Karena sesungguhnya aku terbang dari satu
bunga ke bunga yang lain itu untuk mengerjakan suatu pekerjaan, dan aku
bukanlah tanpa kesibukan seperti yang kamu ucapkan.
Anak : Apa kesibukanmu, dan
jika kamu sibuk sepanjang hari maka bagaimana kamu tidak terfikirkan untuk
beristirahat.
Lebah : Sesungguhnya aku mengumpulkan madu untuk aku makan pada saat
musim dingin, dan bermain – main dengan madu itu bersama anak – anakku di
rumahku sebelum musim panas berlalu dan panas matahari pun akan sedikit yang menyebabkan
bunga – bunga akan mati. Apabila aku istirahat sekarang, maka aku akan kehilangan
kesempatan untuk mengumpulkan makanan. Sehingga aku akan mati pada saat musim
dingin dalam keadaan kelaparan. Maka ambillah pelajaran dariku. Kumpulkanlah
pada masa mudamu apa saja yang bermanfaat untuk masa tuamu.
C.
Mufrodat
الْمُفْرَدَاتُ
|
|||
التَّرْجَمَةُ
|
الْكَلِمَةُ
|
التَّرْجَمَةُ
|
الْكَلِمَةُ
|
Makan
|
تَغَذَّى
|
Anak kecil
|
طِفْلٌ
|
Musim dingin
|
شِتَاءٌ
|
Lebah
|
نَحْلَةٌ
|
Bermain /
Bersenda gurau
|
شَمْعًا
|
Terbang
|
طَارَ –
يَطِيْرُ
|
Musim panas
|
صَيْفٌ
|
Andaikan
|
لَيْتَ
|
Panas
|
حَرَارَةٌ
|
Kesibukan
|
شُغْلٌ
|
Sempit
|
ضَاعَ
|
Salah
|
غَلَطَ
|
Makanan yang
mengenyangkan
|
قُوْتٌ
|
Madu
|
عَسَلٌ
|
Kesempatan
|
فُرْصَةٌ
|
Mengumpulkan
|
جَمَعَ –
يَجْمَعُ
|
D.
Kaidah Dasar Nahwu
قَوَاعِدُ
النَّحْوِ
|
|
الْقَاعِدَةُ
|
الْجُمْلَةُ
|
Susunan jumlah fi`liyah. Dhomir أنا sebagai fa`il, رَأَى menjadi fi`il dan dhomir كِ yang kembali pada نَحْلَةٌ menjadi maf`ul
|
أَرَاكِ
|
Susunan jer majrur. Kalimah مِنْ
adalah huruf jer sedangkan kalimah زَهْرَةٍ menjadi majrur ( kalimah yang di jer kan )
|
مِنْ
زَهْرَةٍ
|
Susunan jer majrur
( penjelasan seperti di atas )
|
إِلَى
أُخْرَى
|
أَنْ adalah `amil nawashib ( menashabkan )
sedangkan تَفَكَّرِيْ adalah
fi`il mudhori` yang beri`rob nashob dengan ditandai hadzfun nuun sebab
termasuk af`alul khomsah
|
أَنْ
تَفَكَّرِيْ
|
لَيْتَ termasuk `amil nawasikh yang berfaidah
menashabkan isim dan merofa`kan khobar. Dhomir أَنَا
menjadi isim لَيْتَ mahal nashob,
sedangkan مِثْلُكِ menjadi khobar لَيْتَ dibaca rofa`, dhomir كِ merujuk pada lebah
|
لَيْتَنِى
مِثْلُكِ
|
Dhomir تَ / أَنْتَ kembali pada anak kecil
|
غَلَطْتَ
|
أَنَّ adalah `amil nawasikh yang berfaidah
menashabkan isim dan merofa`kan khobar. Dhomir أَنَا
menjadi isim أَنَّ mahal nashob,
sedangkan أَطِيْرُ menjadi khobar إِنَّ dibaca rofa`. Khobarnya tersebut berupa
khobar ghoiru mufrod berupa jumlah fi`liyah.
|
أَنِّى
أَطِيْرُ
|
Susunan jumlah fi`liyah. Dhomir أَنَا
menjadi fa`il, kalimah جَمَعَ menjadi fi`il dan kalimah عَسَلاً menjadi maf`ul bih.
|
أَجْمَعُ
عَسَلاً
|
Susunan jumlah fi`liyah. Kalimah تَقِلُّ
menjadi fi`il dan kalimah حَرَارَةُ الشَّمْسِ
menjadi fa`il.
|
تَقِلُّ
حَرَارَةُ الشَّمْسِ
|
E.
Pendalaman Materi
Dari cerita di atas ada beberapa hal
yang dapat diambil untuk kita jadikan pelajaran dalam hidup kita. Pelajaran
pertama yang dapat kita ambil yaitu bahwasanya janganlah kita berburuk sangka
terhadap apa yang orang lain lakukan. Kita menganggap bahwa apa yang orang lain
lakukan hanyalah pekerjaan yang sia – sia belaka bahkan tidak ada manfaatnya
sama sekali, padahal kita tidak tahu apa sebenarnya tujuan orang lain itu
melakukan hal tersebut. Mungkin saja apa yang orang lain lakukan tersebut
sangatlah bermanfaat bagi hidupnya, bahkan bagi hidup orang lain juga. Seperti
halnya seorang anak yang menganggap lebah hanya bermain – main sepanjang hari,
padahal yang lebah lakukan adalah mengumpulkan makanan untuk dia dan anak –
anaknya terutama saat musim dingin, agar mereka tetap bisa bertahan hidup. Allah
SWT pun telah menegaskan larangan berburuk sangka terhadap orang lain, seperti
halnya yang termaktub dalam QS. Al – Hujurat ayat 12 berikut :
يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا
مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ . . . . الأية
“ Hai orang – orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagan dari purba- sangka itu
dosa.”
Imam Bukhari pun meriwayatkan sebuah hadits yang artinya, “ Berhati
– hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang
paling bodoh.”
Selain hadits tersebut, Imam Abu Daud pun juga meriwayatkan tentang
anjuran meninggalkan prasangka buruk.
(الحديث ) . إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ
. .
“ Jauhilah olehmu purbasangka, sesungguhnya purbasangka itu
pendusta besar (sedusta – dusta pembicaraan )” (HR. Abu Daud dari Abdullah bin
Maslamah )
Segala sesuatu yang diperoleh dari
jalan prasangkaan sama sekali tidak bisa menggantikan sesuatu yang diperoleh
dengan keyakinan. Dalam QS. Yunus ayat 36, Allah SWT berfirman :
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ
إِلاَّ ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِى مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيْمٌ بِمَا يَفْعَلُوْنَ
“ Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali
persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk
mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka
kerjakan.”
Berburuk sangka dilarang karena hal
itu dapat menyebabkan rusaknya tali persaudaraan, bahkan dapat menimbulkan
fitnah yang bisa berujung pada hal – hal yang lebih mengerikan, seperti
pembunuhan antar saudara, dan sebagainya.
Pelajaran lain
yang dapat kita ambil yaitu bahwasanya kita dianjurkan untuk sesegera mungkin
menyiapkan bekal di masa yang akan mendatang, jangan sampai kita mengulur –
ulur waktu karena kita tidak pernah tahu hal – hal apa yang akan terjadi pada
diri kita, bahkan kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian
dalam hidup kita. Seperti halnya lebah yang telah menyiapkan makanan nya sedini
mungkin ketika ada kesempatan yang memungkinkannya untuk memperoleh makanannya.
Sehingga dengan begitu, dia dapat bertahan hidup di saat tidak ada makanan yang
dia makan karena tidak adanya kesempatan untuk memperoleh makanan tersebut.
Dalam al – Qur`an
banyak sekali firman Allah SWT yang memperingatkan manusia akan betapa
berharganya waktu. Salah satunya yang termaktub dalam QS.al - `ashr ayat 1 – 3
:
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِى خُسْرٍ إِلاَّالَّذِيْنَ ءَامَنُوْا
وَعَمِلُوْاالصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْابِالصَّبْرِ
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”
(QS. Al-`Ashr: 1-3).
Dalam ayat tersebut dijelaskan
bahwasanya umat manusia benar – benar dalam kerugian yang nyata apabila tidak
memanfaatkan waktu yang telah diberikan Allah SWT seoptimal mungkin untuk
berjalan di atas ketaatan kepada – Nya.
Rasulullah SAW pernah bersabda dalam
suatu hadits
نِعْمَتَانِ
مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ : الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ ( رَوَاهُ
الْبُخَارِى )
“Dua nikmat yang kebanyakan
manusia rugi di dalamnya : Kesehatan dan Waktu Luang ” (HR. Bukhari)
Banyak sekali manusia yang lalai akan kedua nikmat ini. Mereka baru
menyadari akan besarnya kedua nikmat ini setelah mereka kehilangan keduanya.
Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan waktu seoptimal mungkin, karena jika
kita tidak bisa memanfaatkan waktu kita maka justru kita sendiri yang akan
terbunuh oleh waktu. Pepatah Arab mengatakan bahwa :
الْوَقْتُ
كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ ، وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغُلْهَا بِالْحَلَالِ
شَغَلَتْكَ بِالْحَرَامِ وَالْوُقُوْعِ فِي الْآثَامِ
“Waktu diibaratkan pedang, jika engkau
tidak memotongnya maka waktulah yang akan memotongmu, Dan jika engkau tidak
menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang halal, maka dia akan menyibukkanmu dengan
sesuatu yang haram serta perbuatan-perbuatan dosa”
Dalam ayat lain,
Allah menganjurkan kita agar tidak membiarkan waktu kita berlalu begitu saja
tanpa adanya suatu aktifitas yang bermanfaat. Apabila kita sudah selesai dalam
suatu aktifitas maka bersegeralah untuk melanjutkan dengan aktifitas lain yang
bermanfaat.
Jika kita mampu mengoptimalkan waktu
yang telah Allah berikan kepada kita, niscaya kita akan menjadi orang yang
sukses dan beruntung di dunia maupun di akhirat.
Agama Islam sangat
mengatur segala hal dalam urusan dunia ini, termasuk mengatur mengenai waktu
dalam hidup kita. Pentingnya memanfaatkan waktu dengan sebaik – baiknya, larangan
membuang waktu dengan kesia – siaan belaka, dan lain sebagainya juga diatur dalam
Islam. Hal itu terlihat dari banyaknya dalil – dalil naqli baik dari al –
Qur`an maupun al-Hadits yang menjelaskan mengenai permasalahan tersebut.
F.
Kesimpulan
Dari kisah seorang anak kecil dan
seekor lebah tersebut, kami dapat menyimpulkan dan mengambil pelajaran yang
bermanfaat dalam kehidupan kita semua. Pelajaran yang dapat kita ambil dari
kisah tersebut antara lain yaitu larangan berburuk sangka terhadap orang lain
dan anjuran untuk memanfaatkan waktu dalam hidup kita seoptimal mungkin.
Mengenai perihal larangan berburuk
sangka terhadap orang lain sudah jelas keharamannya seperti dalil – dali naqli
yang termaktub dalam al – Qur`an maupun al – Hadits. Dalam kisah tersebut
diceritakan bahwa anak kecil tersebut telah berburuk sangka terhadap lebah, dan
ternyata memang prasangkaan anak tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebanyakan dari prasangkaan memang tidak ada kebenarannya. Oleh karena itu,
agama Islam melarang dari perbuatan tersebut.
Sedangkan anjuran memanfaatkan
waktu, seperti halnya yang telah diibaratkan oleh seekor lebah yang terus
semangat bekerja keras tanpa mengenal lelah. Dia (lebah) tidak mau meninggalkan
kesempatan datangnya musim panas untuk mengumpulkan makanan yang dapat
menyambung hidupnya saat musim panas. Karena saat musim panas tiba, ia tidak
bisa mengumpulkan makanan disebabkan faktor alam dan hal itu mengancam
keberlangsungan hidupnya bahkan anak – anaknya.
Sebagai seorang pelajar, hendaklah
kita mengambil ibrah dari kisah tersebut. Kita harus memanfaatkan waktu dan
kesempatan yang berharga ini untuk mengumpulkan bekal hidup kita setelah tiba
masa tua kita. Dengan pemanfaatan waktu seoptimal mungkin, maka kita akan
sukses dan beruntung di dunia maupun di akhirat kelak.
No comments:
Post a Comment