Thursday, 6 October 2016

bahasa arab

A.    Cerita ( الحكاية )
الطِّفْلُ وَالنَّحْلَةُ
الطِّفْلُ  :  أَيَّتُهَا النَّحْلَةُ الْجَمِيْلَةُ. أَرَاكِ تَطِيْرُ مِنْ زَهْرَةٍ إِلَى أُخْرَى طُوْلَ النَّهَارِ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَفَكَّرِي فِى شَيْءٍ غَيْرِ اللَّعْبِ. يَا لَيْتَنِى مِثْلُكِ بِدُوْنِ شُغْلٍ. فَأَلْعَبُ طُوْلَ النَّهَارِ كَمَا تَلْعَبِيْنَ                          
النَّحْلَةُ  :  غَلَطْتَ أَيُّهَا الطِّفْلُ. لِأَنِّى أَطِيْرُ مِنْ زَهْرَةٍ إِلَى زَهْرَةٍ لِأَعْمَلَ عَمَلاً. وَلَسْتُ بِدُوْنِ شُغْلٍ كَمَا تَقُوْلُ
الطِّفْلُ  :  مَا شُغْلُكِ وَإِذَا كُنْتِ تَشْتَغْلِيْنَ طُوْلَ النَّهَارِ فَكَيْفَ لاَتَفَكَّرِيْنَ فِى الرَّاحَةِ
النَّحْلَةِ  :  إِنِّى أَجْمَعُ عَسَلاً لِأَتَغَذَّى مِنْهُ أَيَّامَ الشِّتَاءِ وَشَمْعاً لِأبْنِي بِهِ بَيْتِيْ. قَبْلَ أَنْ تَمْضِيَ أَيَّامُ الصَّيْفِ وَتَقِلُّ حَرَارَةُ الشَّمْسِ فَتَمُوْتُ الْأَزْهَارُ. وَإِذَا اسْتَرَحْتُ الآنَ ضَاعَتْ مِنِّى فُرْصَةٌ جَمْعُ الْقُوْتِ. فَأَمُوْتُ فِى الشِّتَاءِجَوْعًا. فَاتَّخِذْنِى مِثَالاً لَكَ. وَاجْمَعْ فِى صِغَرِكَ مَا يَنْفَعُكَ فِى كِبَرِكَ.         
B.     Terjemahan Cerita
Seorang Anak Kecil dan Seekor Lebah
Anak   : Wahai lebah yang cantik. Aku melihatmu berterbangan dari satu bunga ke bunga   yang  lain sepanjang hari, tanpa memikirkan sesuatu selain bermain. Andai saja aku bisa sepertimu, tanpa ada kesibukan, maka aku akan bermain sepanjang hari sebagaimana halnya kamu bermain.
Lebah  : Kamu salah anak kecil. Karena sesungguhnya aku terbang dari satu bunga ke bunga yang lain itu untuk mengerjakan suatu pekerjaan, dan aku bukanlah tanpa kesibukan seperti yang kamu ucapkan.
Anak   : Apa kesibukanmu, dan jika kamu sibuk sepanjang hari maka bagaimana kamu tidak terfikirkan untuk beristirahat.
Lebah  : Sesungguhnya aku mengumpulkan madu untuk aku makan pada saat musim dingin, dan bermain – main dengan madu itu bersama anak – anakku di rumahku sebelum musim panas berlalu dan panas matahari pun akan sedikit yang menyebabkan bunga – bunga akan mati. Apabila aku istirahat sekarang, maka aku akan kehilangan kesempatan untuk mengumpulkan makanan. Sehingga aku akan mati pada saat musim dingin dalam keadaan kelaparan. Maka ambillah pelajaran dariku. Kumpulkanlah pada masa mudamu apa saja yang bermanfaat untuk masa tuamu.

C.    Mufrodat
الْمُفْرَدَاتُ
التَّرْجَمَةُ
الْكَلِمَةُ
التَّرْجَمَةُ
الْكَلِمَةُ
Makan
تَغَذَّى
Anak kecil
طِفْلٌ
Musim dingin
شِتَاءٌ
Lebah
نَحْلَةٌ
Bermain / Bersenda gurau
شَمْعًا
Terbang
طَارَ – يَطِيْرُ
Musim panas
صَيْفٌ
Andaikan
لَيْتَ
Panas
حَرَارَةٌ
Kesibukan
شُغْلٌ
Sempit
ضَاعَ
Salah
غَلَطَ
Makanan yang mengenyangkan
قُوْتٌ
Madu
عَسَلٌ
Kesempatan
فُرْصَةٌ
Mengumpulkan
جَمَعَ – يَجْمَعُ

D.    Kaidah Dasar Nahwu
قَوَاعِدُ النَّحْوِ
الْقَاعِدَةُ
الْجُمْلَةُ
Susunan jumlah fi`liyah. Dhomir أنا sebagai fa`il, رَأَى menjadi fi`il dan dhomir كِ yang kembali pada نَحْلَةٌ menjadi maf`ul
أَرَاكِ
Susunan jer majrur. Kalimah مِنْ  adalah huruf jer sedangkan kalimah زَهْرَةٍ menjadi majrur    ( kalimah yang di jer kan )
مِنْ زَهْرَةٍ
Susunan jer majrur
( penjelasan seperti di atas )
إِلَى أُخْرَى
أَنْ adalah `amil nawashib ( menashabkan ) sedangkan تَفَكَّرِيْ adalah fi`il mudhori` yang beri`rob nashob dengan ditandai hadzfun nuun sebab termasuk af`alul khomsah
أَنْ تَفَكَّرِيْ
لَيْتَ termasuk `amil nawasikh yang berfaidah menashabkan isim dan merofa`kan khobar. Dhomir أَنَا menjadi isim لَيْتَ mahal nashob, sedangkan مِثْلُكِ menjadi khobar لَيْتَ dibaca rofa`, dhomir كِ merujuk pada lebah
لَيْتَنِى مِثْلُكِ
Dhomir  تَ / أَنْتَ kembali pada anak kecil
غَلَطْتَ
أَنَّ  adalah `amil nawasikh yang berfaidah menashabkan isim dan merofa`kan khobar. Dhomir  أَنَا menjadi isim أَنَّ mahal nashob, sedangkan أَطِيْرُ menjadi khobar إِنَّ dibaca rofa`. Khobarnya tersebut berupa khobar ghoiru mufrod berupa jumlah fi`liyah.
أَنِّى أَطِيْرُ
Susunan jumlah fi`liyah. Dhomir أَنَا  menjadi fa`il, kalimah جَمَعَ menjadi fi`il dan kalimah عَسَلاً menjadi maf`ul bih.
أَجْمَعُ عَسَلاً
Susunan jumlah fi`liyah. Kalimah تَقِلُّ menjadi fi`il dan kalimah حَرَارَةُ الشَّمْسِ menjadi fa`il.
تَقِلُّ حَرَارَةُ الشَّمْسِ

E.     Pendalaman Materi
Dari cerita di atas ada beberapa hal yang dapat diambil untuk kita jadikan pelajaran dalam hidup kita. Pelajaran pertama yang dapat kita ambil yaitu bahwasanya janganlah kita berburuk sangka terhadap apa yang orang lain lakukan. Kita menganggap bahwa apa yang orang lain lakukan hanyalah pekerjaan yang sia – sia belaka bahkan tidak ada manfaatnya sama sekali, padahal kita tidak tahu apa sebenarnya tujuan orang lain itu melakukan hal tersebut. Mungkin saja apa yang orang lain lakukan tersebut sangatlah bermanfaat bagi hidupnya, bahkan bagi hidup orang lain juga. Seperti halnya seorang anak yang menganggap lebah hanya bermain – main sepanjang hari, padahal yang lebah lakukan adalah mengumpulkan makanan untuk dia dan anak – anaknya terutama saat musim dingin, agar mereka tetap bisa bertahan hidup. Allah SWT pun telah menegaskan larangan berburuk sangka terhadap orang lain, seperti halnya yang termaktub dalam QS. Al – Hujurat ayat 12 berikut :
يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ . . . . الأية
“ Hai orang – orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagan dari purba- sangka itu dosa.”
Imam Bukhari pun meriwayatkan sebuah hadits yang artinya, “ Berhati – hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh.” 
Selain hadits tersebut, Imam Abu Daud pun juga meriwayatkan tentang anjuran meninggalkan prasangka buruk.
            (الحديث )  . إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ . .                   
“ Jauhilah olehmu purbasangka, sesungguhnya purbasangka itu pendusta besar (sedusta – dusta pembicaraan )” (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah )
Segala sesuatu yang diperoleh dari jalan prasangkaan sama sekali tidak bisa menggantikan sesuatu yang diperoleh dengan keyakinan. Dalam QS. Yunus ayat 36, Allah SWT berfirman :
  وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِى مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيْمٌ بِمَا يَفْعَلُوْنَ  
 “ Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
Berburuk sangka dilarang karena hal itu dapat menyebabkan rusaknya tali persaudaraan, bahkan dapat menimbulkan fitnah yang bisa berujung pada hal – hal yang lebih mengerikan, seperti pembunuhan antar saudara, dan sebagainya.
            Pelajaran lain yang dapat kita ambil yaitu bahwasanya kita dianjurkan untuk sesegera mungkin menyiapkan bekal di masa yang akan mendatang, jangan sampai kita mengulur – ulur waktu karena kita tidak pernah tahu hal – hal apa yang akan terjadi pada diri kita, bahkan kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian dalam hidup kita. Seperti halnya lebah yang telah menyiapkan makanan nya sedini mungkin ketika ada kesempatan yang memungkinkannya untuk memperoleh makanannya. Sehingga dengan begitu, dia dapat bertahan hidup di saat tidak ada makanan yang dia makan karena tidak adanya kesempatan untuk memperoleh makanan tersebut.
            Dalam al – Qur`an banyak sekali firman Allah SWT yang memperingatkan manusia akan betapa berharganya waktu. Salah satunya yang termaktub dalam QS.al - `ashr ayat 1 – 3 :
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِى خُسْرٍ إِلاَّالَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَعَمِلُوْاالصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْابِالصَّبْرِ
 “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-`Ashr: 1-3).
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwasanya umat manusia benar – benar dalam kerugian yang nyata apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan Allah SWT seoptimal mungkin untuk berjalan di atas ketaatan kepada – Nya.
Rasulullah SAW pernah bersabda dalam suatu hadits
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ : الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ ( رَوَاهُ الْبُخَارِى )
“Dua nikmat yang kebanyakan manusia rugi di dalamnya : Kesehatan dan Waktu Luang ” (HR. Bukhari)
Banyak sekali manusia yang lalai akan kedua nikmat ini. Mereka baru menyadari akan besarnya kedua nikmat ini setelah mereka kehilangan keduanya. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan waktu seoptimal mungkin, karena jika kita tidak bisa memanfaatkan waktu kita maka justru kita sendiri yang akan terbunuh oleh waktu. Pepatah Arab mengatakan bahwa :
 الْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ ، وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغُلْهَا بِالْحَلَالِ شَغَلَتْكَ بِالْحَرَامِ وَالْوُقُوْعِ فِي الْآثَامِ
“Waktu diibaratkan pedang, jika engkau tidak memotongnya maka waktulah yang akan memotongmu, Dan jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang halal, maka dia akan menyibukkanmu dengan sesuatu yang haram serta perbuatan-perbuatan dosa”
            Dalam ayat lain, Allah menganjurkan kita agar tidak membiarkan waktu kita berlalu begitu saja tanpa adanya suatu aktifitas yang bermanfaat. Apabila kita sudah selesai dalam suatu aktifitas maka bersegeralah untuk melanjutkan dengan aktifitas lain yang bermanfaat.
Jika kita mampu mengoptimalkan waktu yang telah Allah berikan kepada kita, niscaya kita akan menjadi orang yang sukses dan beruntung di dunia maupun di akhirat.
            Agama Islam sangat mengatur segala hal dalam urusan dunia ini, termasuk mengatur mengenai waktu dalam hidup kita. Pentingnya memanfaatkan waktu dengan sebaik – baiknya, larangan membuang waktu dengan kesia – siaan belaka, dan lain sebagainya juga diatur dalam Islam. Hal itu terlihat dari banyaknya dalil – dalil naqli baik dari al – Qur`an maupun al-Hadits yang menjelaskan mengenai permasalahan tersebut.
F.     Kesimpulan

Dari kisah seorang anak kecil dan seekor lebah tersebut, kami dapat menyimpulkan dan mengambil pelajaran yang bermanfaat dalam kehidupan kita semua. Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tersebut antara lain yaitu larangan berburuk sangka terhadap orang lain dan anjuran untuk memanfaatkan waktu dalam hidup kita seoptimal mungkin.
Mengenai perihal larangan berburuk sangka terhadap orang lain sudah jelas keharamannya seperti dalil – dali naqli yang termaktub dalam al – Qur`an maupun al – Hadits. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa anak kecil tersebut telah berburuk sangka terhadap lebah, dan ternyata memang prasangkaan anak tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Kebanyakan dari prasangkaan memang tidak ada kebenarannya. Oleh karena itu, agama Islam melarang dari perbuatan tersebut.
Sedangkan anjuran memanfaatkan waktu, seperti halnya yang telah diibaratkan oleh seekor lebah yang terus semangat bekerja keras tanpa mengenal lelah. Dia (lebah) tidak mau meninggalkan kesempatan datangnya musim panas untuk mengumpulkan makanan yang dapat menyambung hidupnya saat musim panas. Karena saat musim panas tiba, ia tidak bisa mengumpulkan makanan disebabkan faktor alam dan hal itu mengancam keberlangsungan hidupnya bahkan anak – anaknya.
Sebagai seorang pelajar, hendaklah kita mengambil ibrah dari kisah tersebut. Kita harus memanfaatkan waktu dan kesempatan yang berharga ini untuk mengumpulkan bekal hidup kita setelah tiba masa tua kita. Dengan pemanfaatan waktu seoptimal mungkin, maka kita akan sukses dan beruntung di dunia maupun di akhirat kelak.

      




No comments:

Post a Comment